Afrianto's posts with tag: oase

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryPuisi Terbaik Versi PBB?Nov 20, '08 11:02 AM
for everyone

Mpers,

Kunon puisi berikut terpilih sebagai puisi terbaik versi PBB tahun 2006. Meskipun dengan grammatikal Bahasa Inggris yang 'tidak standard', pesan puisi yang (kabarnya) dikarang oleh seorang anak Afrika ini terasa sangat dalam dan bahkan 'tajam', 'menusuk'.

---------------------

When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in Sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black

And you white fellow
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when! You die , you gray

And you calling me colored?


Sahabat semua,

Ramadhan 1428 telah meninggalkan kita. Setiap kita tentu saja memiliki kesan dan catatan sendiri dengan bulan istimewa itu pada tahun ini. Harapannya tentu, bahwa Ramdhan itu telah meninggalkan bekas yang mendalam dalam jiwa kita agar kita bisa menjadi hamba Allah dalam makna sesungguhnya. Layaknya sebuah training, seharusnya Ramadhan itu menjadikan kita yang berpuasa menjadi lebih baik, lebih memiliki etos kerja, motivasi, dan produktifitas dalam bermal sholeh dibanding dengan masa-masa kita sebelum mengikuti training itu.Kalau tidak, maka sia-sialah puasa yang kita lakukan.

Apapun bentuk catatan kita tentang bagaimana kita berubudiah selama Ramadhan kali ini, saya yakin kita tak kan pernah merasa puas dengan segala bentuk keistimewaan yang mungkin telah kita rasakan bersama penghulu segala bulan ini.

Karenanya wajar dan pantas kita berharap dan berdoa kepada Allah SWT. "Ya Allah beri kami kembali kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan berikutnya". Amin.


Blog EntryTaujih di Malam ke 28 ItuOct 11, '07 12:43 AM
for everyone
Tulisan ini diambil dari catatan seorang teman pada sebuah milis. Saya posting ulang. Semoga bermanfaat bagi kita sebagai sebuah taushiah sekaligus muhasabah.
 
Salam,
------------------
 
Taujih dimalam ke 28 itu ...
 
Disela-sela kegiatan i'tikaf yang diikuti ikhwah di sebuah masjid di Sydney, seperti biasanya ba'da tarawih sang Ustadz memberikan taujihnya. Berhubung malam ini merupakan malam ke 28, suasana masjid tidak begitu ramai dibandingkan malam-malam ganjilnya. Apalagi, baru semalam yg lalu, malam ke 27, masjid begitu penuh sesak dengan keberadaan masyarakat muslim sekitar, khususnya para brother dari Timur Tengah, yang sebagian besarnya begitu percaya bahwa malam lailatul qadr akan jatuh pada malam hari itu. Sehingga sangat mungkin sebagian mereka begitu lelah dan capai untuk bisa datang ke masjid dimalam ini.
 
Kembali ke taujih sang ustadz ...
Dengan tidak lebih dari sepuluh ikhwah yang hadir pada malam hari itu, sang ustadz menyampaikan sebuah tema yang sepertinya biasa-biasa saja. Tetapi, sungguh hati ini begitu tersentuh dan bergetar ketika apa yang disampaikan beliau sangat mengena dan memang betul-betul tengah terjadi dilingkungan ini
 
Dikisahkan oleh sang ustadz, yang kebetulan diamanahkan sebagai pimpinan masjid didaerah Depok, yang nota bene merupakan kawasan yang sangat padat hunian keluarga aktivis, bahwa hatinya sangat pilu dan sedih menyaksikan sangat minimnya mereka-mereka yang mengklaim dirinya sebagai aktivis untuk hadir dimasjid untuk shalat berjama'ah, khususnya diwaktu shubuh ...
 
Betapa tadinya sang ustadz membayangkan akan terjadi suatu suasana dahsyat ketika dirinya memimpin masjid tersebut, puluhan atau bahkan ratusan ikhwah yang tinggal disekitar masjid itu akan meramaikan masjid dengan shalat shubuh berjama'ah. Betapa terbayang olehnya turunnya keberkahan dan pertolongan Allah swt sebagai modal awal perbaikan moral masyarakat nantinya ... Namun yang terjadi malah sebaliknya, shaf-shaf pertama justru diisi oleh para orang-orang tua yang telah lanjut usia, para sesepuh masyarakat yang sedang menghabiskan masa tuanya kembali kepada Allah swt. Lalu yang disebut para aktivis itu ... ? " Ya, mungkin hanya satu atau dua saja, tiga dengan saya " kata sang ustadz dengan pilu
Tidak terasa menetes air mata ini ...
 
Sang ustadz meneruskan ...
Diberbagai acara-acara dauroh, mabit, atau acara-acara bersama lainnya, betapa beliau sering mendapatkan dirinya sering ketinggalan untuk bangun qiyamul lail, dikarenakan ikhwah-ikhwah lain begitu sigap dan cepat untuk berlomba-lomba bangun diawal waktu. Tetapi ketika mereka kembali ke kehidupan sehari-hari ... sang ustadz tidak menemukan kegairahan itu. "Apakah sekarang ikhwah bermuka dua ? Begitu rajin ketika bersama-sama, namun kembali kepada jati dirinya yang asli ketika kembali kepada kehidupan sehari-hari" keluh sang ustadz
 
Berbaik sangka selalu memenuhi hati sang ustadz melihat fenomena ini " Oh mungkin kalau zhuhur dan ashar mereka masih bekerja, kalau maghrib masih diperjalanan pulang, kalau Isya mungkin sudah lelah. Tetapi kalau shubuh ? apakah mereka sudah kembali berangkat bekerja .... ? " kata ustadz menyindir
 
Sejurus kemudian, tiba-tiba sang ustadz berkata dengan penuh ketegasan "Capaian kita di berbagai wajihah masyarakat, prestasi kita di parlemen, kesuksesan kita di legislatif, eksekutif atau yudikatif, bukanlah ukuran kesuksesan yang hakiki ! Justru semakin dekatnya ikhwah kepada Allah swt,dalam perilakunya, dalam ibadahnya itulah kesuksesan yang sebenarnya ! Jangan kita tertipu ! "
 
Lalu mengalirlah dari beliau tentang dalil-dalil keutamaan, fahdilah, ganjaran yang Allah berikan kepada mereka-mereka yang senantiasa shalat berjama'ah dimasjid, khususnya shalat shubuh. Mulai dari terbebasnya dari sifat munafik, dibalas 27x lipat, diganjar seakan-akan melakukan tahajud sepanjang malam, satu langkah kaki kiri menghapus dosa dan satu langkah kaki kanan meninggikan derajat, belum lagi dari sisi keberkahan rizqi dan sisi kesehatan udara dipagi hari yang sangat kaya unsur O3.
 
" Bagi saya, cukuplah menjadi surga dunia, kalau anak saya diajak ke masjid, dan nggak nolak !" kata ustadz dengan logat betawinya yang khas
 
...
 
Saudaraku ...
Marilah kita renungkan kembali taujih tersebut. Kita semua yang telah berjanji kepada Allah melalui da'wah ini sepatutnya sangat berhajat kepada ibadah yang satu ini. Salah satu ibadah yang diharapkan mampu menyuplai energi ruhiyah untuk menghadapi beratnya target-target dan berbagai qodhoya da'wah ini.
 
Bagaimana mungkin diri ini akan mempunyai semangat atau cita-cita serta optimisime untuk menggapai sebuah target program da'wah kalau keberkahan shubuh dilalaikan ? Bagaimana jadinya diri ini yang pasti akan selalu bertemu dengan laporan berupa qodhoya dan permasalahan dilapangan, kalau ketidakhadiran shubuh ini tidak menjadi kesedihan ?
 
Ramadhan ini telah menempa kita semua, khususnya di sepuluh hari terakhir ini, tubuh ini, jasad ini dan diri ini telah dilatih kembali untuk menggapai keberkahan shalat berjam'ah di masjid, khususnya shalat shubuh. Jangan sia-siakan kebaikan ini, jangan biarkan diri ini kembali kepada kemalasan dan kealpaan. Semoga di hari yang fitri nanti, sebuah diri yang baru akan kembali lahir untuk menyongsong seruan da'wah ini, aamiin.
 
Sydney, 28 Ramadhan 1428H
 
Abu Abdurrahman

Blog EntryTerima Kasih IstrikuMay 30, '07 11:18 PM
for everyone

Sahabat semua,

Sebagai selingan dari cerita berseri "Ku Temukan "Islam" di Negeri Kangguru", kali ini saya postingkan tulisan Zaim Ukhrawi yang berjudul Terima Kasih Iistriku. Saya menyukai gaya bertutur dan juga pemikiran Zaim Ukhrawi yang biasanya menulis di resonansi Republika. Tulisannya yang satu ini saya pikir penting bagi kita yang sudah berkeluarga, agar bahtera rumah tangga yang sedang kita kayuh tak tenggelam di perjalanan sebelum sampai ke pulau impian. Dan tentu bagi kalian yang belum berumah tangga, isi tulisan ini tak kalah pentingnya.

Semoga bermanfaat. (Maaf bagi yang sudah membacanya).

----

http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=283755&kat_id=19

Terima Kasih Istriku

Oleh : Zaim Uchrowi

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan 'kawin perak 25 tahun', 'kawin emas' 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula.

Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu?

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. "Kan cuma 'curhat', atau makan bareng," kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: "Sudah nggak cocok lagi!" Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing.

Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran. Saya bersyukur tidak masuk kategori 'anak sekarang' itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu.

Tapi, tak semua pasangan 'nggak cocok' memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. "Awet rajet," begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai 'senjata' buat menghadapi pasangan sendiri?

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi 'tren'. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia.

Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.

Juga untuk tidak mengatakan "saya kan sudah berkurban ..." karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan 'tegak'. Itu langkah kami.

Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: "Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?" Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata "Terima kasih ya."

 


Blog EntryBersyukurlah!Apr 30, '07 9:08 PM
for everyone

Sungguh ada begitu banyak nikmatnya yang telah Allah berikan untuk kita. Namun kadang kita masih terjebak untuk tidak berterima kasih kepada-Nya. Kita cendrung lebih fokus kepada apa yang kita inginkan, dan lupa dengan apa yang telah kita miliki. Kita cendrung selalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, padahal kemanapun kita pergi, akan selalu ada orang yang lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, lebih cantik, lebih keren, dan lebih beruntung daripada kita.

Ah, rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di perkarangan sendiri. Karenanya kita perlu hati-hati dengan kehijauan rumput tetangga yang mungkin aja menipu itu. Bersyukurlah dengan apa yang telah kita miliki. Karena dengan itulah, hidup kita bisa menjadi lebih tenang. Insyaallah.

----

Berikut ada nasehat tentang syukur yang saya dapat dari sebuah milis. Namun saya tidak tahu pasti siapa penulis aslinya. Kunon nasehat ini diambil dari buku 7 Habits of Highly Effective People yang terkenal itu.

Semoga bermanfaat!

-------

Bersyukurlah !
Bersyukurlah bahwa kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan .
Seandainya sudah, apalagi yang harus kamu diinginkan?
 
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar .
 
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit .
Di masa itulah kamu tumbuh ...
 
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu .
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang .
 
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru .
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu .
 
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat .
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga .
 
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih .
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan .
 
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...
 
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu 

 


Blog EntryBahkan Malam Pertamapun Belum UsaiNov 24, '06 3:32 PM
for everyone

Oleh: Abu Aufa

Langit begitu memesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Suguhan orkestra dari penghuni malam laksana simfoni indah. Seketika romansa pun tercipta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Namun…
Sayup terdengar seruan. Semakin lama kian lantang, “Haiya ‘alal jihad… haiya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Ia bergegas bangkit dari pangkuan belahan hatinya. Cepat pula tangan meraih sebilah pedang dan perisai.

Kekasih sesaat tercekat. Melagukah hati karenanya? Tidak! Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’a-lah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin RasuluLlah.

Perang berkobar. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Setindak kemudian ia ikut melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedang berkelebatan. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang. Nyawa gembong kaum musyrikin itu ada di ujung pedang. Tapi ia lengah. Dari belakang musuh yang lain menusuk. Memerih. Ia tercenguk. Terjengkang.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud.

Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur. Padahal sedari tadi hujan tak mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Mereka menemui istrinya yang kemudian menjawab,

“Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambut. Padahal ia dalam keadaan junub.”

RasuluLlah lalu bersabda,

“Ia telah dimandikan oleh malaikat.”

Benar. Bagi sang syuhada, menyongsong seruan tersebut adalah perwujudan cinta sucinya. Walaupun malam pertama belumlah usai diarungi bersama kekasih yang juga dicintainya.

Majulah sahabat mulia / Berpisah bukan akhir segalanya Lepas jiwa terbang mengangkasa / Cita kita tetap satu jua (Izzatul Islam: Untukmu Syuhada)

ALlahu a’lam bish-shawaab.

Catatan:
Ide tulisan ini adalah sebuah kisah tentang Handzalah bin Abu Amir, yang dijuluki Ghasilul Malaikat.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.